MEMELIHARA IKAN

Tampilkan postingan dengan label Ikan Bandeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ikan Bandeng. Tampilkan semua postingan

USAHA BUDIDAYA IKAN BANDENG

Written By gara on Rabu, 15 Agustus 2012 | 21.46

Bandeng adalah jenis ikan konsumsi yang tidak asing bagi masyarakat. Bandeng merupakan hasil tambak, dimana budidaya hewan ini mula-mula merupakan pekerjaan sampingan bagi nelayan yang tidak dapat pergi melaut. Itulah sebabnya secara tradisional tambak terletak di tepi pantai. Bandeng merupakan hewan air yang bandel, artinya bandeng dapat hidup di air tawar, air asin maupun air payau. Selain itu bandeng relatif tahan terhadap berbagai jenis penyakit yang biasanya menyerang hewan air. Sampai saat ini sebagian besar budidaya bandeng masih dikelola dengan teknologi yang relatif sederhana dengan tingkat produktivitas yang relatif rendah. Jika dikelola dengan sistim yang lebih intensif produktivitas bandeng dapat ditingkatkan hingga 3 kali lipatnya.


Dari aspek konsumsi bandeng adalah sumber protein yang sehat sebab bandeng adalah sumber protein yang tidak mengandung kolesterol. Bandeng presto, bandeng asap, otak-otak adalah beberapa produk bandeng olahan yang dapat dijumpai dengan mudah di supermarket. Selama sepuluh tahun terakhir permintaan bandeng meningkat dengan 6,33% rata-rata per tahun, tetapi produksi hanya meningkat dengan 3,82%.
Budidaya bandeng tidak menimbulkan pencemaran lingkungan baik air kotor maupun bau amis. Pemeliharaan bandeng yang sehat mensyaratkan air dan tambak yang bersih serta tidak tercemar.
Studi ini menjelaskan beberapa aspek budidaya bandeng yang dimulai dengan profil budidaya bendeng secara umum pada bab 2. Pemasaran di wilayah penelitian dan prediksi permintaan dan penawaran tingkat nasional dijelaskan pada bab 3. Aspek teknis pemeliharaan intensif disajikan pada bab 4. Bab 5 secara khusus menyajikan aspek keuangan budidaya bandeng pola pemeliharaan semi intensif. Bab 6 membahas peran budidaya bandeng dan masalah yang dihadapi, ditutup dengan bab 7 kesimpulan dan saran untuk pengembangan usaha budidaya bandeng.


PROFIL USAHA

Bandeng merupakan jenis ikan yang bisa dibudidayakan pada tambak. Potensi tambak Indonesia tersebar di seluruh tanah air, hanya ada tiga propinsi yang tidak memiliki tambak yakni Sumatera Barat, DKI dan DIY. Propinsi Jawa Timur merupakan propinsi dengan tambak terluas. Tahun 2000 tambak Jawa Timur tercatat seluas 53.423 ha atau 15% dari luas tambak di tanah air (BPS, 2002). Sementara itu di Jawa Timur pusat tambak terletak di Kabupaten Gresik dan Sidoarjo dengan luas tambak masing-masing 38,44% dan 32,17% dari luas tambak Jawa Timur (Dinas Statistik Propinsi Jawa Timur, 2003). Mengacu pada data di wilayah Sidoarjo, lebih dari 60% tambak adalah tambak bandeng.
Selama sepuluh tahun terakhir (1990-2003) pertumbuhan luas tambak maupun produksinya memiliki trend yang positif. Dari tahun 1990-2000 luas tambak tumbuh 2,97% rata-rata per tahun sedangkan pertumbuhan produksi tambak 3,16%. Sementara itu produktivitas tambak berfluktuasi dari tahun ke tahun tetapi berkisar pada angka 700-800 kg per ha. Luas dan produksi tambak tahun 1990-2003 dapat dilihat pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1.
Luas Tambak Bersih dan Produksi, 1990-2003
Tahun
Luas (Ha)
Produksi (Ton)
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
432.156
469.839
486.611
492.879
500.468
499.818
523.818
551.778
n.a
n.a
355
346
361
404
370
354
413
430
455
472
Sumber : BPS, 2002

Dalam buku ini, wilayah penelitian yang dipilih adalah usaha tambak bandeng di wilayah Sidoarjo dan Gresik yang merupakan usaha yang dilakukan masyarakat secara turun temurun. Mula-mula usaha ini adalah usaha sambilan para nelayan yang tidak dapat pergi melaut, namun dalam perkembangannya usaha ini tidak lagi menjadi monopoli nelayan tetapi menjadi pencaharian utama masyarakat umumnya. Usaha tambak bandeng dapat berkembang dengan baik di kedua wilayah ini sebab dari aspek teknis lingkungan kedua wilayah lebih cocok digunakan untuk tambak dari pada untuk lahan pertanian. Tambak lebih banyak digunakan untuk pemeliharaan bandeng sebab secara teknis memelihara bandeng relatif lebih mudah dibandingkan udang misalnya. Harga bandeng yang tidak terlalu mahal sebenarnya juga menjadi insentif tersendiri bagi petambak untuk mengusahakan tambak bandeng. Dengan harga yang relatif murah maka bandeng yang dipelihara di lokasi yang umumnya jauh dari pemukiman ini relatif aman dari gangguan pencuri. Aspek pemasaran juga mendukung berkembangnya budidaya bandeng tambak, walaupun permintaan bandeng tidak setinggi produk ayam tetapi informasi dari petambak menyatakan bahwa belum pernah terjadi petambak harus menjual bandeng dengan harga yang begitu murah sehingga menyebabkan kebangkrutan. Artinya selama ini belum pernah ada petambak bandeng yang sampai bangkrut baik karena pasar yang lemah ataupun karena gangguan penyakit.

Dalam hal teknologi yang digunakan, sampai saat ini sebagian besar tambak bandeng masih menggunakan teknologi sederhana. Di Sidoarjo 93% pengelolaan tambak bandeng masih menggunakan pola tradisional dan semi intensif, 7% sisanya menggunakan pola intensif. Dengan sistim tradisional produktivitas tambak bandeng hanya 50-100 kg per ha setiap musim tebar. Dengan sistim intensif produktivitas tambak bandeng dapat ditingkatkan hingga mencapai 150 – 200 kg per ha per musim tebar. Perbedaan pengeloaan intensif dan tradisional terletak pada aspek bibit, pengelolaan tambak, sistim pengairan dan makanan. Secara rinci perbedaan pengelolaan tambak intensif dan tradisional dapat dilihat pada Tabel 2.2.
Pengelolaan semi intensif merupakan sistim pengelolaan yang sudah tidak tradisional tetapi belum intensif penuh, sehingga pola semi intensif bervariasi, yang terletak antara pola tradisional dan intensif. Sebuah contoh pengelolaan tambak semi intensif adalah, pengairan diatur secara sederhana, dilakukan pemberian pupuk dan makanan tambahan pada saat menjelang panen dengan kepadatan tebar 10.000 ekor per ha.
Tabel 2.2.
Perbedaan Perlakuan Budidaya Bandeng
Kriteria
Tradisional
Intensif
Spesifikasi tambak
Sederhana
Mengikuti aturan tertentu (lihat bab IV)
Bibit (nener)
Penangkapan tanpa seleksi sehingga ukuran tidak seragam
Dari hatchery dan terseleksi sehingga ukuran seragam
Kepadatan penebaran (ekor/Ha)
Rendah, 
5.000 ekor
Tinggi,
50.000 ekor
Makanan
Alami, apa yang tersedia di tambak
Dipupuk dan diberi makanan tambahan
Pengairan
Bergantung pada pasang surut air laut
Diatur dengan bantuan peralatan
Sumber : Murtidjo, 2002

POLA PEMBIAYAAN

Di wilayah Sidoarjo hanya ada satu bank yang memberikan kredit untuk petambak bandeng yakni PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk Cabang Sidoarjo (selanjutnya disebut Bank BRI). Namun demikian tidak terdapat skema kredit khusus untuk usaha tambak bandeng. Pemberian kredit untuk usaha tambak bandeng sama dengan sistim pemberian kredit untuk usaha lainnya.
Pinjaman untuk usaha diberikan dengan sistim Rekening Koran Murni. Dengan sistim ini ketika peminjam memerlukan kredit maka dia akan membuka rekening untuk diisi dananya oleh bank. Peminjam bebas mencairkan atau melunasi penjamannya setiap saat. Kewajiban yang harus dipenuhi oleh peminjam adalah membayar bunga sejumlah pinjaman yang tersisa. Ketentuan lain berkaitan dengan kredit usaha ini dapat dilihat pada Tabel 2.3.
Tabel 2.3.
Persyaratan Kredit Usaha Bank BRI Sidoarjo
Persyaratan Kredit
Investasi
Modal Kerja
Bunga (% per tahun)
14 – 18
14 – 15
Masa bebas bunga (bulan)
6 – 12
Tidak ada
Jangka waktu (tahun)
5
1 – 3
Dana sendiri (%)
35 – 40
20 – 30
Sumber : Bank BRI Sidoarjo
Di Bank BRI ada tiga petambak bandeng yang menerima kredit dari BRI dengan pola ini. Pemberian kredit kepada nasabah ini didasarkan pada beberapa pertimbangan, antara lain:


  1. Jaminan kredit yang diambil adalah sertifikat tanah. Sebenarnya inilah yang lebih penting bagi Bank BRI. Kasus salah satu nasabah yang memerlukan kredit tidak dapat dipenuhi sebab yang bersangkutan tidak lagi memiliki sertifikat tanah yang dapat dipakai sebagai agunan.
  2. Petambak tersebut telah menjadi nasabah Bank BRI sejak lama (rata-rata lebih dari 10 tahun). Selama mereka menjadi nasabah BRI selalu menunjukkan kinerja yang baik (tidak pernah bermasalah).
  3. Mempunyai usaha lain selain tambak.
Dengan kriteria tersebut nasabah tidak mengalami kesulitan jika sewaktu-waktu memerlukan uang baik untuk investasi (membel atau menyewa tambak) maupun untuk kredit modal kerja, tetapi bunga yang harus ditanggung usaha tambak bandeng lebih tinggi yakni 20%. Relatif tingginya bunga usaha tambak bandeng didasarkan pada tingginya resiko usaha ini. Dalam kenyataan kredit tidak pernah berjangka panjang, ketika petambak memiliki uang umumnya mereka segera melunasi hutangnya, sehingga rata-rata masa kredit hanya berlangsung sekitar 1 tahun. Petambak melakukan hal ini karena ketika panen petambak mempunyai cukup pendapatan untuk menutup hutangnya. Disamping itu bunga kredit yang mencapai 20% dirasakan sebagai beban yang cukup berat bagi petambak.

smbr:ikanmania
21.46 | 0 komentar | Read More

Ikan bandeng

 I. Pendahuluan.
Ikan bandeng merupakan adalah satu jenis ikan penghasil protein hewani yang tinggi. Usaha intensifikasi budidaya perlu dilakukan karena rendahnya produktivitas bandeng dengan budidaya tradisional. Peningkatan sistem budidaya juga harus diikuti dengan penggunaan teknologi baru.

II. Sifat Biologis.
Bandeng termasuk golongan ikan herbivora , yaitu bangsa ikan yang mengkonsumsi tumbuhan. Mampu mencapai berat rata-rata 0,6 kg pada usia 5 - 6 bulan dengan pemeliharaan yang intensif.

III. Penyediaan Benih.
Usaha penyediaan benih (nener) secara kontinyu dengan mutu yang baik dilakukan dengan sistem pembenihan yang intensif pada kolam-kolam khusus, yaitu kolam pematangan induk, pemijahan, peneneran dan kolam pembsaran. Dalam pembenihan bandeng langkah yang dilakukan adalah :
1. Pemilihan induk yang unggul . Induk yang unggul akan menurunkan sifat-sifatnya kepada keturunannya, Ciri-cirinya :
- bentuk normal, perbandingan panjang dan berat ideal.
- ukuran kepala relatif kecil, diantara satu peranakan pertumbuhannya paling cepat.
- susunan sisik teratur, licin, mengkilat, tidak ada luka.
- gerakan lincah dan normal.
- umur antara 4 5 tahun.

2. Merangsang pemijahan. Kematangan gonad dapat dipercepat dengan penggunaan hormone LHRH (Letuizing Hormon Releasing Hormon) melalui suntikan.`

3. Memijahkan. Pemijahan adalah pencampuran induk jantan dan berina yang telah matang sel sperma dan sel telurnya agar terjadi pengeluaran (ejakulasi) kedua sel tersebut. Setelah berada di air, sel sperma akan membuahi sel telur karena sistem pembuahan ikan terjadi diluar tubuh. Pemijahan dilakukan pada kolam khusus pemijahan

4. Penetasan. Telur yang mengapung di kolam pemijahan menetas setelah 24 - 26 jam dari awal pemijahan. Telur yang telah menetas akan menjadi larva yang masih mempunyai cadangan makanan dari kuning telur induk, sehingga belum perlu diberi pakan hingga umur 2 hari.

5. Merawat benih. Setelah berumur 9 hari larva dipindahkan ke kolam pemeliharaan nener . Di kolam ini larva diberi pakan alami berupa plankton. Penumbuhan plankton dilakukan dengan pemupukan dan pengapuran. Pemupukan yang tepat adalah dengan pupuk TON (TAMBAK ORGANIK NUSANTARA) yang mengandung berbagai unsur mineral penting untuk pertumbuhan plankton, diantaranya N,P,K,Mg, Ca, Mg, S, Cl dan lain-lain, juga dilengkapi dengan asam humat dan vulvat yang mempu memperbaiki tekstur dan meningkatkan kesuburan tanah dasar kolam dengan dosis 5 botol TON/ha atau 25 gr (2 sendok makan)/100 m2 pada tiap pemasukan air. Waktu peneneran 8 minggu. Pakan yang diberikan berupa tepung dengan kadar protein 30%. Untuk menambah nutrisi pakan pencampuiran pakan dengan NASA dengan dosis 2 - 5 /kg pakan sangat diperlukan, karena NASA mengandung unsur-unsur mineral penting yaitu N,P,K,Mg,Fe,Ca,S dan lain-lain, vitamin, protein dan lemak untuk meningkatkan pertumbuhan dan kesehatan nener.

IV. Pembesaran.
Setelah dipelihara di kolam peneneran selama 8 minggu, bandeng dipindahkan ke kolam pembesaran. Teknis pembesaran bandeng meliputi beberapa hal, yaitu :
1. Persiapan lahan.
Tahap ini dilakukan sebelum pemasukan air. kegiatan yang dilakukan selama persiapan lahan adalah :
- Pencangkulan dan pembalikan tanah. Bertujuan untuk membebaskan senyawa dan gas beracun sisa budidaya hasil dekomposisi bahan organik baik dari pakan maupun dari kotoran. Selain itu dengan menjadi gemburnya tanah, aerasi akan berjalan dengan baik sehingga kesuburan lahan akan meningkat.
- Pengapuran. Selama budidaya, ikan memerlukan kondisi keasaman yang stabil yaitu pada pH 7 - 8. Untuk mengembalikan keasaman tanah pada kondisi tersebut, dilakukan pengapuran
karena penimbunan dan pembusukan bahan organik selama budidaya sebelumnya menurunkan pH tanah. Pengapuran juga menyebabkan bakteri dan jamur pembawa penyakit mati karena sulit dapat hidup pada pH tersebut. Pengapuran dengan kapur tohor, dolomit atau zeolit dengan dosis 1 TON /ha atau 10 kg/100 m2.
- Pemupukan. Fungsi utama pemupukan adalah memberikan unsur hara yang diperlukan bagi pertumbuhan pakan alami, memperbaiki struktur tanah dan menghambat peresapan air pada tanah-tanah yang tidak kedap air (porous). Penggunaan TON untuk pemupukan tanah dasar kolam sangat tepat, karena TON yang mengandung unsur-unsur mineral penting, dan asam-asam organik utama memberikan bahan-bahan yang diperlukan untuk peningkatan kesuburan lahan dan pertumbuhan plankton. Dosis pemupukan TON adalah 5 botol/ha atau 25 gr/100 m2.
- Pengelolaan air. setelah dilakukan pemupukan dengan TON, air dimasukkan hingga setinggi 10 - 20 cm kemudian dibiarkan beberapa hari, untuk menumbuhkan bibit-bibit plankton. Air dimasukkan hingga setinggi 80 cm atau menyesuaikan dengan kedalaman kolam.

2. Pemindahan nener. Setelah plankton tumbuh (warna air hijau) dan kecerahan sedalam 30 - 40 cm, nener di kolam peneneran dipindahkan ke kolam pembesaran dengan hati-hati dengan adaptasi terhadap lingkungan yang baru.

3. Pemberian Pakan. Sesuai dengan sifat bandeng yang termasuk hewan herbivore, maka ikan ini suka memakan tumbuh-tumbuhan yang ada di kolam. Tumbuhan yang disukai bandeng adalah lumut, ganggang dan klekap. Untuk mempercepat pertumbuhan, perlu pakan buatan pabrik, dengan standar nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh optimal dengan kadar protein .minimal 25 - 28 %.

Sebagai hewan herbivora, unsur tumbuhan dalam pakan memang sangat penting,. Oleh karena itu, sebaiknya bahan baku unsur protein harus didominasi dari sumber tumbuhan atau nabati dari tepung kedelai atau bungkil kacang tanah. Sebagai acuan pemberian pakan adalah : Jumlah pakan 5 - 7% dari berat badan. Waktu pemberian 3 - 5 kali sehari.

Penambahan NASA pada pakan buatan merupakan pilihan yang tepat untuk meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan tubuh bandeng. NASA mengandung mineral-mineral penting, protein, lemak dan vitamin akan menambah kandungan nutrisi pakan. Dosis pencampuran NASA dengan pakan buatan adalah 2 - 5 cc/kg pakan dengan cara :
1. Timbang pakan sesuai dengan kebutuhan bandeng.
2. Basahi pakan dengan sedikit air agar pencampuran dengan NASA dapat merata.
3. Campurkan NASA sesuai jumlah pakan yang diberikan dengan dosis 2 - 5 cc/kg pakan.
4. Pakan siap untuk diberikan.
Pemberian pakan dengan menyebarkan secara merata pada seluruh areal kolam, agar seluruh bandeng dapat pakan.

V. Pengendalian hama dan Penyakit.
Penyakit penting yang sering menyerang bandeng adalah :
1. Pembusukan sirip, disebabkan oleh bakteri. Gejalanya sirip membusuk dari bagian tepi.
2. Vibriosis. Disebabkan oleh bakteri Vibriosis sp , gejalanya nafsu makan turun, pembusukan sirip, dan bagian perut bengkak oleh cairan.
3. Penyakit oleh Protozoa. Gejalanya nafsu makan hilang, mata buta, sisik terkelupas, insang rusak, banyak berlendir.
4. Penyakit oleh cacing renik. Sering disebabkan oleh cacing Diploctanum yang menyerang bagian insang 
 sehingga menjadi pucat dan berlendir.

Penyakit dari bakteri, parasit dan jamur disebabkan lingkungan yang buruk, dan penurunan daya tahan tubuh ikan. Penurunan kualitas lingkungan disebabkan oleh tingginya timbunan bahan organik dan pencemaran lingkungan dari aliran sungai.. Bahan organik dan kotoran akan membusuk dan manghasilkan gas-gas yang berbahaya. Ketahanan tubuh ikan ditentukan konsumsi nutrisinya. Maka cara pengendalian penyakit harus menitikberatkan pada kedua faktor tersebut. Untuk mengatasi penurunan kualitas lingkungan dapat dilakukan perlakuan TON dengan dosis 5 botol/ha atau 25 gr (2 sendok makan)/100 m2 yang mengandung unsur mineral dan asam-asam organik penting yang mampu menetralkan berbagai gas berbahaya hasil pembusukan kotoran dalam kolam dan unsur mineral akan menyuburkan plankton sebagai pakan alami. Untuk mencukupi kebutuhan nutrisi dalam jumlah yang ideal, perlu diberikan pakan dengan standar protein yang sesuai serta dengan penambahan/pencampuran NASA pada pakan buatan. NASA dengan kandungan mineral-mineral penting, vitamin, asam organic, protein dan lemak akan menambah dan melengkapi nutrisi pakan, sehingga ketahanan tubuh untuk hidup dan berkembang selalu tercukupi. 
smbr :budidayanews
21.08 | 0 komentar | Read More